Garth Jennings director of SING – First time in Animation

Garth Jennings adalah seorang director music video dan live action yang mungkin bukanlah orang yang paling cocok untuk memimpin sebuah feature animation film. Tapi jangan katakan hal tersebut kepada founder Illumination dan CEO Chris Melendandri. โ€œSaya punya firasat bahwa Garth punya kepekaan yang sangat cocok untuk ide yang ada dikepala sayaโ€, kata Melendandri yang baru saja meminta Jennings untuk memimpin film ke-tujuh studio Illumination.

Hasilnya, film Sing yang dirilis di bioskop U.S minggu ini mengindikasikan bahwa film besutan Illumination yang ke tujuh ini akan menjadi film yang sukses. Untuk alasan yang baik pun, Sing adalah salah satu film yang sangat memuaskan untuk ditonton pada akhir tahun. Dengan pengisi suara yang benar-benar menyenangkan sampai kepada cara penyampaian cerita yang otentik.

Pada kesempatan kali ini, kita akan berbincang dengan Gareth Jennings tentang tantangan apa saja yang dia hadapi sebagai director feature film, pipeline pembuatan film yang cepat dan bagaimana pengalamannya dalam membuat music video membantunya dalam mengerjakan Sing.

(Sing, film ketujuh besutan illumination)

Ide tentang film Sing datang dari CEO illumination Chris Melendandri. Bagaimana idenya, pertama kali sampai kepada anda? Sebagai contoh, apakah koala ditetapkan sebagai tokoh utama pada saat dia menceritakan idenya kepada anda?

Garth Jennings: Awalnya mulanya sangat singkat, hanya pembicaraan seputar kompetisi musik dan binatang, kami berdua sangat suka dengan ide tentang berbagai macam storyline dan melihat setiap karakter berevolusi. Itu sangat jelas di awal, dan kami tidak sabar untuk membuatnya menjadi sebuah drama. Tetapi tidak, tak berapa lama setelah tokoh koala dan gedung teater muncul kami menyadari bahwa kami ingin agar cerita menjadi lebih teatrikal, tidak seperti acara tv.

Kami ingin film ini memiliki feel seperti The Commitments, dimana jika anda punya musik, itu adalah cara anda melarikan diri dari karakter. Diluar dari itu, kami mulai mengerjakan desain karakter, membuat setiap cerita dan personality mereka.

(The Commintments, sebuah film komedi musikal di tahun 1991)

Bagaimana anda memilih hewan untuk setiap karakternya. Anda punya landak sebagai seorang remaja, gajah yang pemalu, ini seperti pilihan yang mudah, tapi saya tidak membayangkan bagaimana anda membuat mereka semua bisa sesuai dengan cerita. Bagaimana anda memutuskan segala sesuatunya?

Garth Jennings: Hal-hal seperti itu datang secara natural karena kami tidak mencoba membuat sebuah karakter yang spesifik. Jika tidak, kamu tidak akan pernah menggunakan koala sebagai pemimpin sebuah theater karena Koala adalah hewan yang bergerak sangat lambat. Ini lebih kepada menemukan hewan mana yang cocok dengan sifat dasar manusia. Saya suka Ash sang landak, saya mendapat inspirasi untuk karakter dia setelah membaca buku karya Tracy Thorn. Ash [landak] adalah salah satu karakter awal yang dibuat bersama dengan tokoh Mike [tikus]. Ketika saya menulis untuk Chris aku pikir akan sangat menarik apabila sifat malu ditampilkan secara berlebihan, sampai-sampai kamu harus menyembunyikan diri dibelakang telinga.

Dari situ, proses kerja kami berjalan secara natural sampai-sampai kami berdua bisa bekerja sama dengan sangat baik. Untuk Ms. Crawley [bunglon] idenya muncul secara spontan, dikepala saya langsung muncul image kadal dengan kacamata besar begitu mendengar saya harus membuat tokoh sekretaris untuk Buster (Koala). Saya tidak tahu kenapa image kadal dengan kacamata besar langsung muncul dikepala saya, ide itu muncul begitu cepat. Sebelumnya tidak pernah ada orang yang menanyakan hal seperti ini, tapi saya pikir itu pertanyaan yang bagus.

Ini seperti sebuah insting, dan sangat menyenangkan untuk bisa bekerja sama dengan Chris untuk hal-hal seperti itu. Kami sangat menikmati proses penentuan hewan dalam film. Bahkan untuk hal kecil seperti manager bank Judith [Alpaca] yang mana dia terus menghantui Buster [Koala] untuk membayar hutang-nya, merupakan hal penting bahwa Judith memiliki leher yang paling panjang dalam film supaya dia bisa melakukan intimidasi ke Buster.

(Moon Buster, tokoh Koala sang pemilik Teater)

Apakah anda membuat kesalahan dalam pembuatan tokoh karakter sehingga ada ide atau cerita yang harus di hilangkan?

Garth Jennings: Sebelumnya kami punya tokoh yang sangat kaya. Dia akan menjadi tokoh yang semakin dominan dan pada saat terakhir, kami sadar bahwa sebenarnya dia tidak dibutuhkan dalam cerita. Sangat lucu ketika kamu pikir bahwa kamu adalah orang yang pintar, namun tiba-tiba kamu rasa kamu tidak memerlukan ide-ide kamu sebelumnya. Pada akhirnya, kami hanya membutuhkan karakter itu untuk sebuah shot pendek dimana dia memberikan Mike kartu kredit di bank. Dia seharusnya punya peranan lebih besar dari itu, tapi kami putuskan untuk menghilangkan dia dari peran besarnya itu.

Bisakah anda berbicara tentang hal-hal yang lebih practical seperti pengalaman pertama anda menjadi director dalam sebuha film animasi. Anda berpengalaman dalam pembuatan music video dan live action adakah kesulitan dalam pergantian ke feature film?

Garth Jennings: Ini adalah penyesuaian tersulit saya, mungkin seperti ketika saya pertama kali masuk sekolah. Ini benar-benar pekerjaan yang berbeda dan saya tidak tahu akan itu. Kita selalu memiliki rasa naif ketika memulai sesuatu yang baru. Namun kamu akan sadar, bahwa ini adalah sesuatu yang benar-benar berbeda. Ada pipeline kerja yang bergerak begitu cepat dan yang paling membuat ku terkesan adalah bantuan Chris dan tim pada setiap bagian produksi.

Tapi saya menemukan hal ini sebagai sesuatu yang benar-benar berbeda dari awal. Pertama-tama, dua puluh tahun semenjak saya meninggalkan sekolah seni, saya selalu bekerja dengan temen saya dan sekarang adalah kali pertama saya bekerja tanpa mereka. Kedua, saya harus berpindah ke Prancis bersama keluarga untuk membuat film dan saya sama sekali tidak bisa bahasa prancis. Ketiga, pipeline kerja yang digunakan benar-benar membuat aku kerepotan, ada sangat banyak bagian yang begerak dengan kecepatan-nya sendiri-sendiri dan kamu harus menyatukan mereka semua seperti semua puzzle.

Lalu saya mulai terbiasa dan semakin percaya diri ketika berada dalam tim. Itulah yang Chris lakukan. Chris bisa menempatkan seseorang seperti saya bersama dengan orang-orang yang memang berkompeten di bidang ini, dari situ saya bisa mengerjakan tugas-tugas saya dan merasa percaya diri. Sampai hari ini pun, saya merasa bahwa saya belajar lebih banyak dari pada apa yang sudah saya pelajari tiga tahun belakangan ini.

(Tokoh Gunter dan Rosita dalam Sing)

Apakah keahlian anda sebagai director untuk music video memiliki andil dalam pembuatan film musikal seperti ini?

Garth Jennings: Saya pikir itu benar, saya sudah membuat banyak hal dan saya pikir itu telah menjadi bagian dari DNA saya. Saya paham bentul bagaimana mem-film kan seekor gorilla yang sedang bermain piano atau seekor babi yang sedang latihan dance. Saya suka melakukan hal-hal tersebut. Saya bahkan punya gambaran yang kuat tentang bagaimana Johnny [Gorilla] menyelesaikan permainan piano-nya. Saya sering menonton musik dan mem-filemkan mereka, sangat menyenangkan untuk bisa membawa hal itu kedalam tim animasi.

Karena itu, saya tidak ingin mengambil apa yang telah mereka lakukan, karena meskipun saya memiliki banyak pendapat dan ide-ide untuk itu, tidak semuanya bisa direalisasikan. Oleh karena itu kami benar-benar bekerja dengan sangat dekat. Saya bangga dengan hasil yang kami raih, semua seperti menyatu menjadi satu.

 

(Jhonny Mountain, tokoh Gorilla dalam film SING)

Berbicara tentang ending, itu adalah salah satu ending terbaik yang pernah saya tonton di feature film tahun ini. Energi dalam film terus mengalir bahkan sampai film selesai.

Garth Jenning: Tentu saja, apabila seseorang ingin sebuah nasihat, saya akan mengatakan jangan pernah membuat sebuah film dengan banyak storyline, itu akan membuat anda gila. Kamu tidak akan tidur selama setahun. Tapi saya rasa kami telah melakukan sesuatu yang membuat kami semua bangga dan saya sangat senang.

Coba ceritakan bagaimana anda bekerja dengan para animator.

Garth Jennings: Begitu kami mendapatkan scene dalam reel kami akan menunjukan-nya kepada team animator di dalam story reels lengkap dengan pengisi suara dan kita akan berbicara dari satu. Pada saat mereka melihat layout-nya, mereka akan mengerti sebelumnya seperti apa.

Kemudian apa yang kami lakukan adalah menentukan gerakan untuk setiap shot dan momen, kami akan berdiskusi tentang bagaimana akting dapat bekerja dengan sesuai, dimana posisi tubuh karakter, setiap gerakan pada punggung karakter dan sebagai-nya. Kami banyak sekali melakukan akting menirukan setiap karakter.

(Tim animator yang sedang bekerja di illumination Mc Guff Paris)

Setiap klip akting yang kami rekam, dapat di akses oleh siapa saja yang mengerjakan scene film tersebut. Dari situ, setiap harinya kami akan mendapatkan banyak shot animasi kasar untuk di cek bersama para animator dan director of animation [Patrick Delage dan Pierre Leduc]. Tidak setiap orang bisa setiap hari melakukan review animasi kasar yang mereka buat, terkadang mereka membutuhkan dua atau tiga hari untuk mengerjakan animasi sebelum akhirnya siap untuk di presentasikan.

(SING Behind the Scene)